Selasa, 15 April 2014

Pagi tadi

Pagi yang cerah buatku. Dengan matahari yang bersinar sempurna menghangatkan badanku sesuai dengan kapasitasnya. Tidak seperti biasa, ku pergi melangkah ke kampus dengan membonceng salah seorang teman. Pagi itu banyak sekali kendaraan kendaraan yang malang melintang dijalanan; rame banget. “ lumrahlah ini juga baru jam 07.30, memang jam-nya kantor” kataku dalam hati.
Selang beberapa menit, motor yang ku tumpangi sudah berada pada jalan menuju kampusku. Terlihat dari kejauhan trafic light berwarna merah, spontan teman yang boncengi meng-rem motornya dan berhenti. Tidak ada pembicaraan pada waktu menunggu lampu menuju lampu hijau. Selang beberapa detik kemudian, lampu hijau pun menyala. Semua motor berjalan dan ternyata ada seseorang yang membawa sepeda onthel dan beberapa motor bahkan hampir semua motor meneriakkan bel-nya. “tiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn” begitu kurang lebih suaranya.

Kasian sekali si sepeda itu, ingin rasanya aku berhenti dan ku hentikan semua motor-motor itu, kemudian ku sebrangkan sepeda usang itu : pikirku. “dasar orang sekarang, tidak mengerti arati dari keegoisan, andai saja para pengendara itu saling memahami, pasti tak akan ada rasa kesal yang ada hanya bagaimana membahagiankan orang yang disekitar.

2 komentar em “Pagi tadi”

  • 26 April 2014 pukul 20.47
    Anonim Disse:

    haa bagus, menceritakan kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang santai
    "setiap orang memiliki gaya kepenulisan yang berbeda-beda"

    delete
  • 27 April 2014 pukul 08.37
    Unknown Disse:

    terimakasih.....
    mana kritik sarannya.
    baca puisinya juga mpok. :)

    delete

Posting Komentar

 

Copyright © 2014 -- by Jejak Sang Pemimpi